Arman telah menghabiskan dua puluh tahun di ruang arsip forensik bawah tanah, memeriksa ribuan berkas sejarah, memverifikasi tanda tangan digital, dan memvalidasi keaslian dokumen-dokumen penting negara. Baginya, kebenaran adalah jalinan matematika yang keras: jika dua ditambah dua sama dengan empat, dan hukum non-kontradiksi berdiri tegak, maka kepalsuan selalu dapat diisolasi dan dieliminasi.
Suatu malam, saat melakukan kalibrasi rutin terhadap sistem verifikasi kognitif yang terhubung langsung ke korteks penglihatannya, Arman menemukan sebuah anomali ganjil. Setiap kali ia memeriksa keaslian sebuah catatan peristiwa, sistem menampilkan kalkulasi probabilitas yang sempurna tanpa margin galat sedikit pun. Tidak ada celah keraguan, tidak ada derau data. Semua begitu rapi, begitu meyakinkan, dan begitu mutlak.
Rasa curiga mulai menggerogoti benaknya. Dalam dunia empiris, kesempurnaan mutlak adalah tanda bahaya. Ia mencoba menguji persepsinya sendiri: ia menghitung ketukan jam dinding kuno di sudut ruangan. Satu, dua, tiga, empat. Namun ketika ia mengalihkan pandangan ke layar monitor, catatan waktu menunjukkan loncatan tiga jam ke depan tanpa ada jeda yang ia rasakan.
"Jika sebuah program jahat atau entitas peretas tingkat tinggi mampu memanipulasi persepsi dasarku, ia tidak hanya bisa mengubah angka-angka di hadapanku; ia bahkan bisa membuatku merasa sangat yakin bahwa dua ditambah dua sama dengan lima, sambil memberiku kepuasan logis bahwa kesimpulan itu mutlak benar."
Arman meletakkan pena stilusnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar di bawah pendar lampu neon. Jika alat yang ia gunakan untuk mengukur kewarasan adalah otaknya sendiri, dan otak itu sendiri dapat dikelabui hingga meyakini kepalsuan sebagai kepastian aksiomatis, lantas dasar apa lagi yang tersisa di kolong langit ini yang dapat ia percaya tanpa setitik pun keraguan?