Reza selalu percaya bahwa keberadaannya ditentukan oleh apa yang ia simpan di dalam kepalanya: kenangan masa kecil di kaki bukit bersama almarhum ayahnya, janji setia kepada istrinya saat mereka masih mengontrak rumah petak sempit, serta prinsip keras kepala yang membuatnya menolak suap dari pengusaha tambang mana pun.
Ketika dokter memvonis bahwa tumor ganas di pangkal otaknya tak lagi bisa dioperasi dan sisa hidupnya tinggal hitungan hari, sebuah prosedur medis regeneratif mutakhir ditawarkan. Pola saraf, jaringan ingatan, dan seluruh kepribadiannya dipindai secara molekuler untuk ditranskripsikan ke dalam tubuh biologis baru yang sehat dan bebas kanker.
Rencananya sederhana dan bersih: saat obat bius bekerja, pemindaian selesai, dan raga baru mulai bernapas, raga lamanya yang sekarat akan dihentikan jantungnya tanpa rasa sakit. Dalam teori, Reza hanya akan merasa terpejam sesaat dan terbangun dengan napas yang segar.
Namun pengaruh obat bius pudar lebih cepat dari perkiraan mesin. Reza membuka kelopak matanya yang berat di atas ranjang perawatan. Tenggorokannya tercekat oleh selang oksigen, tubuhnya dingin dan tak sanggup digerakkan.
Melalui kaca bening pembatas ruangan, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdegup kacau. Di lorong yang terang benderang, seorang pria dengan perawakan tegap dan wajah yang persis dirinya sepuluh tahun lalu sedang merengkuh pundak istrinya. Reza mendengar suara pria itu—suaranya sendiri, dengan tawa renyah yang biasa ia gunakan untuk menenangkan anak bungsunya: "Rina, aku pulang. Badainya sudah lewat. Sekarang kita bisa menata hidup lagi."
"Pak Reza, pemindahan pola sinapsis Anda sukses sempurna tanpa distorsi sedikit pun. Lelaki di luar sana mengingat semua yang Anda ingat, mencintai keluarga Anda dengan intensitas yang sama persis, dan akan meneruskan hidup Anda. Namun raga di ranjang ini mengalami penolakan organ dan akan berhenti bernapas dalam beberapa menit. Tenanglah, Anda tidak kehilangan masa depan Anda, karena Anda sedang berdiri di luar sana."
Reza di atas ranjang menatap jemarinya yang pucat dan gemetar. Sebuah kesadaran dingin dan sepi menyergap dadanya: Jika sosok di luar sana adalah 'Aku', lantas siapa yang saat ini sedang merasa kesakitan dan menatap ajal di ranjang ini? Apakah aku sungguh-sungguh melanjutkan hidup, ataukah aku sedang terbunuh sementara sebuah tiruan sempurna melenggang bebas mengambil alih duniaku?