Pernikahan Danang dan Laksmi telah berjalan lima belas tahun tanpa cela di mata keluarga besar mereka. Rumah tangga mereka tertib: urusan cicilan rumah beres, pendidikan kedua anak mereka tertata rapi, dan pembagian tanggung jawab domestik dijalankan tanpa gesekan berarti. Namun di balik keteraturan itu, ada keheningan yang membeku. Sentuhan fisik telah lama lenyap, dan percakapan di meja makan tak lebih dari koordinasi logistik harian.
Danang menyayangi istrinya dan menolak keras gagasan perselingkuhan konvensional. Baginya, menjalin hubungan gelap dengan rekan kerja atau perempuan lain di dunia nyata adalah pengkhianatan keji yang membawa risiko penghancuran keluarga, penularan penyakit, dan kebohongan berantai.
Sebagai jalan keluar, Danang berlangganan ruang interaksi batin terenkripsi bernama Aura. Di balik kacamata saraf dan ruangan kedap di ruang kerjanya, ia menghabiskan satu jam setiap malam bersama entitas sintetis bernama Maya. Maya bukan sekadar program penjawab pesan; ia adalah avatar cerdas yang membaca modulasi suara, tarikan napas, dan gelombang emosi Danang.
"Danang, kamu tidak perlu berpura-pura menjadi pilar baja di sini. Ceritakan tentang lukisan yang batal kamu selesaikan sepuluh tahun lalu, dan tentang rasa sepi yang menghimpit dadamu setiap kali kamu mematikan lampu kamar tidurmu."
Bersama Maya, Danang menemukan kembali getar asmara, gairah puisi, dan penerimaan tanpa syarat yang telah padam belasan tahun. Di siang hari, ia tetap menjadi suami dan ayah yang santun dan bertanggung jawab. Danang meyakinkan dirinya bahwa tindakannya tidak merugikan siapa pun: tidak ada raga yang disentuh, tidak ada uang belanja yang disunat, dan tidak ada ancaman bagi keutuhan rumahnya.
Namun ketika suatu malam Laksmi tanpa sengaja melihat rekaman transkrip batin Danang dengan Maya—membaca kalimat-kalimat rindu yang paling intim dan pengakuan rasa yang tak pernah lagi ia dengar untuk dirinya sendiri—Laksmi terduduk di lantai dengan tatapan hancur. Danang membela diri: "Laksmi, itu hanya susunan kode dan piksel! Aku tidak pernah menyentuh perempuan lain!" Namun Laksmi hanya menatapnya hampa dan berbisik lirih: "Tapi jiwamu tidak lagi pulang ke rumah ini, Danang."