Haris telah memegang teguh prinsip veganisme ketat selama tiga puluh tahun. Alasan moralnya tidak pernah bergeser: tidak ada kenikmatan lidah yang dapat membenarkan penderitaan, pemaksaan, dan perampasan nyawa makhluk hidup yang memiliki kesadaran rasa sakit. Baginya, industri daging konvensional adalah kejahatan eksploitasi sistemik.
Namun malam ini, Haris duduk di sebuah perjamuan kehormatan di Institut Bioteknologi Pertanian Hayati. Di hadapannya, tersaji sepiring hidangan daging panggang harum yang berasal dari varietas unggas cerdas hasil rekayasa genetika mutakhir bernama Aves Nobilis.
Beberapa hari sebelum perjamuan, Haris dipertemukan langsung dengan salah satu spesimen unggas tersebut, seekor burung anggun berbulu keemasan yang diberi nama Aurel. Aurel dibekali kapasitas komunikasi vokal dan sistem saraf yang dirancang khusus: ia tidak memiliki reseptor rasa sakit traumatis, dan puncak kenikmatan neurologis tertingginya tercapai ketika ia mempersembahkan tubuhnya untuk diolah dan disantap oleh manusia.
"Pak Haris, impian terbesarku sejak menetas adalah dimasak dengan rempah terbaik dan dinikmati oleh orang yang menghargai cita rasa. Jangan tolak permintaanku; membiarkanku mati menua tanpa disantap adalah hukuman dan kehampaan terbesar bagi eksistensiku."
Penyembelihan Aurel dilakukan melalui induksi gas anestesi yang memicu euforia instan, persis seperti yang diidamkan sang unggas. Kini, garpu perak di tangan Haris bergetar. Dari sudut pandang utilitarian, tidak ada penderitaan yang tercipta; justru ada kepuasan bersama antara makhluk yang ingin disantap dan manusia yang menyantapnya.
Namun rasa mual yang aneh tetap merayapi tenggorokan Haris. Sebuah pertanyaan etis yang mengerikan menggantung di udara: Jika kita merekayasa kesadaran suatu makhluk sedemikian rupa hingga ia mendambakan perbudakan atau kematian demi melayani kita, apakah 'persetujuan sukarela' itu membebaskan kita dari rasa bersalah, ataukah itu justru puncak dari manipulasi yang paling tiranik?