Hendra bukan penjudi sembarangan; ia adalah kepala analis risiko logistik maritim yang membanggakan insting analitisnya. Selama bertahun-tahun, ia memantau pelayaran armada kargo otomatis yang melintasi Selat Karang Selatan, jalur pelayaran ganas dengan pusaran arus bawah laut yang tak terduga.
Menurut kalkulasi independen, setiap wahana kargo tanpa awak memiliki peluang keberhasilan lolos sebesar lima puluh persen pada tiap pelayaran, murni ditentukan oleh fluktuasi turbulensi acak laut dalam. Dalam kondisi normal, keberhasilan dan kegagalan terdistribusi merata.
Namun pekan ini, fenomena luar biasa terjadi: lima wahana kargo berturut-turut terseret palung dan karam. Hendra mempelajari grafik pemantauan dengan mata merah karena kurang tidur. Di kepalanya, sebuah keyakinan kuat mulai mengkristal.
"Hukum keseimbangan alam tidak mungkin membiarkan anomali berlangsung selamanya. Lima kali kegagalan beruntun adalah peristiwa yang probabilitas terjadinya di bawah tiga persen. Wahana keenam secara matematis memiliki 'utang keberhasilan' yang wajib terbayar lunas oleh alam semesta!"
Didorong oleh keyakinan akan sistem 'hukum probabilitas yang harus seimbang' ini, Hendra mengambil langkah berani yang melanggar protokol: ia mempertaruhkan seluruh dana cadangan darurat divisinya untuk memuat kargo bernilai triliunan rupiah ke dalam wahana ekspedisi keenam.
Rekan kerjanya mengingatkan bahwa laut tidak memiliki ingatan, dan wahana keenam tetap menghadapi peluang kegagalan yang sama persis yaitu lima puluh persen. Namun Hendra menepis peringatan itu dengan senyum percaya diri, yakin bahwa takdir statistik sedang berpihak kepadanya. Ketika sirene tanda bahaya kembali meraung dan wahana keenam lenyap ditelan palung, Hendra terpaku menatap layar: alam semesta tidak pernah merasa berutang keadilan apa pun kepada manusia.