Inspektur Ardi berdiri di depan gerbang kawasan pemukiman pengerajin mandiri di pinggiran kota. Di tangannya, tergenggam surat perintah dari komando otoritas pusat untuk mengeksekusi penggusuran paksa, penyitaan seluruh aset produksi, dan penahanan para tetua komunitas yang menolak tunduk pada konsolidasi industri negara.
Ardi tahu persis bahwa perintah ini adalah ketidakadilan yang telanjang—sebuah perampasan hak warga lemah demi keuntungan konglomerasi penguasa. Namun posisi Ardi terjepit dalam perhitungan yang dingin.
Jika ia menolak menjalankan perintah dan mengundurkan diri sebagai bentuk protes moral, komando pusat akan segera mengirimkan Batalion Taring Merah—unit penindak tanpa belas kasihan yang terkenal gemar menggunakan pentungan listrik, gas air mata beracun, dan pembakaran paksa yang pasti menelan korban jiwa.
"Jika aku mundur, penindasan ini tetap terjadi sepuluh kali lebih brutal. Namun jika aku memimpin eksekusi ini sendiri, aku bisa mengatur prosedur agar tidak ada darah yang tumpah, memberi waktu bagi para ibu untuk mengemas barang penting, dan memperlakukan para tetua dengan sopan. Apakah aku harus mengotori tanganku demi menyelamatkan nyawa mereka?"
Ardi memilih untuk maju memimpin penggusuran tersebut. Ia berhasil mencegah pertumpahan darah: tidak ada kekerasan fisik yang berlebihan, dan evakuasi berjalan tertib. Namun saat malam tiba dan seluruh pemukiman telah rata dengan tanah, seorang pembuat tembikar tua menatap mata Ardi dengan tatapan pilu dari balik truk tahanan: "Bagi kami, Pak Inspektur, engkaulah yang merampas masa depan anak-cucu kami hari ini, apa pun bisikan nuranimu."
Ardi menatap seragamnya yang bersih dari darah namun ternoda oleh stempel kezaliman yang tak terhapuskan. Ia berhasil meminimalkan penderitaan fisik, namun dengan menjadi instrumen efektif yang melancarkan kejahatan penguasa tanpa hambatan perlawanan.