Gamelan Ageng Kyai Pamor adalah pusaka agung keraton yang telah dimainkan dalam setiap upacara penobatan raja selama tiga abad. Nilai historis dan spiritualnya tak ternilai harganya bagi seluruh negeri.
Selama lima puluh tahun terakhir, di bawah perawatan empu karawitan Raden Sutopo, bilah-bilah perunggu yang retak diganti satu demi satu dengan bilah perunggu baru yang ditempa dengan komposisi logam yang serupa. Tali pengikat kulit yang lapuk diganti sutra anyam baru, dan rancakan kayu jatinya yang dimakan rayap diganti dengan kayu jati ukir baru. Pada tahun ini, bilah terakhir dari era tiga ratus tahun lalu akhirnya digantikan. Tidak ada satu molekul pun dari materi asli yang tersisa pada gamelan di ruang upacara keraton.
Namun tanpa sepengetahuan pihak istana, seorang kolektor artefak swasta secara telaten membeli setiap bilah logam retak, serpihan tali usang, dan rangka kayu tua yang dibuang oleh bengkel sang empu. Sang kolektor merestorasi dan merakit kembali seluruh serpihan asli tersebut ke bentuk semula di galerinya.
"Gamelan di keraton adalah Kyai Pamor yang sah!" tegas Raden Sutopo. "Kesinambungan fungsi ritual dan pemeliharaannya tidak pernah terputus selama tiga abad!"
"Bohong!" bantah sang kolektor. "Gamelan di keraton hanyalah replika modern berumur lima puluh tahun. Kyai Pamor yang asli berada di galeri saya, karena seratus persen materinya adalah perunggu dan kayu yang disentuh langsung oleh para leluhur tiga ratus tahun lalu!"
Para kurator, tetua adat, dan hakim kebudayaan terpaku dalam kebingungan metafisik. Jika identitas ditentukan oleh kesinambungan bentuk dan sejarah fungsi, gamelan keratonlah yang asli. Namun jika identitas ditentukan oleh keaslian materi fisik purba, gamelan sang kolektorlah yang memegang hakikat pusaka tersebut.