Di studio loteng kedap suara kawasan Cikini, Arya Prabangkara (45 tahun)—seorang maestro suara avant-garde yang telah mengasingkan diri dari industri komersial—tengah memainkan instrumen modular hibrida rancangannya sendiri, Svara-Sunyata.
Malam itu, Arya memainkan sebuah gubahan polifoni mikrotonal yang menyatukan resonansi slendro kuno dengan gelombang sintesis modular. Harmoni yang tercipta begitu agung, kompleks, dan menghanyutkan; sebuah mahakarya sonik yang sanggup meruntuhkan keangkuhan nalar dan menggetarkan relung batin terdalam siapa pun yang mendengarnya.
Di sudut ruangan, Nadia (32 tahun)—kurator senior dari lembaga preservasi warisan musik nasional—duduk terpaku dengan air mata berlinang di pipinya. Belum pernah dalam seumur hidupnya ia mendengar keindahan komposisi setingkat itu.
Namun Nadia mengetahui arsitektur sistem modular tersebut: instrumen itu diprogram dengan sirkuit memori fluktuatif tanpa penyimpan cadangan. Setiap gelombang nada yang memancar ke udara secara otomatis menghapus baris kode memorinya dalam hitungan milidetik. Tidak ada partitur kertas, tidak ada rekaman pita suara, dan tidak ada jejak digital. Begitu nada terakhir meluruh dalam keheningan, karya itu akan lenyap selamanya dari muka bumi.
"Arya, di dalam tasku ada perekam master resolusi tinggi. Izinkan aku menekan tombol rekam! Karya agung ini berhak didengar oleh jutaan manusia di masa depan, dipelajari di universitas musik, dan diabadikan sebagai puncak peradaban sonik bangsa. Membiarkannya hilang begitu saja adalah dosa peradaban yang membuang berkah keindahan!"
Arya tersenyum tenang, tangannya tetap menari di atas tuts modular seraya menatap Nadia tanpa rasa gelisah:
"Nadia, kau memandang seni dengan kacamata museum dan pasar: seni bagimu adalah 'benda artefak' yang harus ditangkap, dibekukan, dikomodifikasi, dan diputar berulang-ulang di pelantang suara sampai kehilangan jiwanya. Keagungan simfoni ini justru mekar sempurna karena ia fana—ia hanya hidup di detik ini, di ruangan ini, di antara kita berdua. Menikmatinya berarti belajar melepaskan, bukan memperbudaknya menjadi monumen mati."
Jari Nadia gemetar di dalam saku mantelnya. Sakelar perekam portabelnya hanya berjarak satu sentimeter dari ujung jempolnya. Menekannya akan menyelamatkan mahakarya abadi bagi kemanusiaan, namun sekaligus mengkhianati wasiat suci sang pencipta.