Dr. Sofia adalah konsultan strategi optimasi keputusan paling bergengsi di ibukota. Reputasinya dibangun di atas disiplin nalar yang dingin: ia tidak pernah membiarkan bias emosi atau sentimentalitas mengaburkan kalkulasi efisiensi logis kliennya.
Suatu hari, seorang miliarder eksentrik bernama Winata menyewanya untuk merancang rencana hidup sepuluh tahun ke depan. Winata memiliki kekayaan puluhan triliun rupiah, tubuh yang bugar, dan kecerdasan analitis yang tajam.
Namun tujuan akhir yang diajukan Winata membuat Sofia tercengang: Winata ingin mengalokasikan seratus persen kekayaannya untuk membangun sebuah menara kubus obsidian hitam setinggi lima ratus meter di tengah gurun terpencil yang sama sekali tidak memiliki fungsi ekonomi, seni, sosial, ataupun tempat tinggal. Ia berniat menghabiskan sisa umurnya di puncak menara itu sambil menggoreskan garis-garis lurus di dinding batu setiap pagi.
"Pak Winata, rencana ini sama sekali tidak rasional! Anda bisa menggunakan dana ini untuk membasmi kelaparan, mendanai riset kanker, atau melipatgandakan aset bisnis!" seru Sofia.
Winata tersenyum tenang: "Dokter Sofia, nalar Anda dapat menunjukkan cara paling murah dan cepat membangun menara batu itu. Tapi tunjukkan kepada saya satu hukum logika formal yang membuktikan bahwa 'menolong orang' secara inheren lebih rasional daripada 'membangun batu obsidian'?"
Sofia terbungkam. Sebagaimana yang dirumuskan David Hume berabad-abad silam, nalar manusia hanyalah pelayan bagi hasrat batin (slave of the passions). Nalar dapat memberitahu kita bagaimana cara mencapai sasaran, namun nalar tidak pernah bisa menentukan tujuan akhir mana yang wajib kita hasrati.
Menginginkan kehancuran dunia demi mencegah jari yang tergores, atau membuang seluruh kekayaan demi menumpuk batu di gurun pasir, bukanlah kekeliruan logika matematika—itu adalah misteri hasrat dasar manusia yang berada di luar jangkauan sang nalar.