Tiga ratus tahun lalu, saat usianya masih dua puluh lima tahun, Ratna menemukan dan meminum senyawa biokimia penstabil telomer mutlak yang menghentikan penuaan sel raganya untuk selamanya. Saat itu, ia membayangkan masa depan tanpa batas: mempelajari semua bahasa, menguasai semua instrumen musik, dan melihat peradaban manusia berevolusi.
Kini, di abad keempat hidupnya, Ratna duduk di tepi jendela apartemennya menatap kota metropolitan yang telah berganti wajah puluhan kali. Ia telah menjadi dokter bedah, arsitek, novelis, pelaut, astronom, dan diplomat. Ia telah menguasai dua belas bahasa dan memainkan seluruh simfoni klasik di luar kepala.
Namun alih-alih merasakan kepuasan agung, sebuah kehampaan dingin melumpuhkan jiwanya. Delapan generasi kekasih, sahabat, anak, dan cucunya telah menua, sakit, dan dikuburkan, meninggalkan Ratna sendirian di lorong waktu.
Pengakuan Batin Ratna
"Ketika waktu tidak pernah habis, tidak ada pilihan yang mendesak. Mengapa harus menyelesaikan lukisan hari ini jika aku punya seribu tahun lagi? Mengapa harus memperjuangkan cinta jika aku tahu pasanganku akan memutih rambutnya dan meninggalkanku sendiri? Kematian yang dulu kutakuti ternyata adalah bingkai yang memberi harga pada lukisan kehidupan."
Ratna menyadari bahwa hasrat manusia (categorical desires) bersifat terbatas dan terikat pada kefanaan. Tanpa batas akhir kematian, segala proyek eksistensial kehilangan bobot kesungguhannya. Keabadian biologis tanpa henti bukanlah anugerah dewa, melainkan kutukan penjara kebosanan abadi yang tak memiliki pintu keluar.
1. Argumen Kasus Makropulos Bernard Williams
Williams berargumen bahwa keabadian manusiawi akan selalu berujung pada salah satu dari dua hal buruk: kebosanan beku yang mematikan rasa (tedium), atau perubahan karakter yang begitu drastis sehingga kita bukan lagi diri kita yang asli.
2. Hasrat Kategoris (Categorical Desires)
Hasrat mendasar yang memberi kita alasan untuk terus hidup (seperti proyek karya, membesarkan anak, cinta). Dalam keabadian, semua hasrat ini pada akhirnya akan habis terpuaskan atau kehilangan urgensinya.
3. Kematian sebagai Syarat Keindahan Eksistensial
Sebagaimana lagu yang indah membutuhkan nada penutup, kehidupan manusia memperoleh keanggunan dan kesungguhan justru karena ia fana dan tak terulang.
4. Tragedi Keterisolasian Waktu
Makhluk abadi terhukum untuk menyaksikan seluruh relasi sosialnya hancur oleh waktu, menjadikannya orang asing abadi di tengah generasi yang silih berganti.
Sein-zum-Tode (Mengada Menuju Kematian)
Heidegger menyatakan bahwa kesadaran akan kematian adalah penentu otentisitas keberadaan manusia (Dasein). Menghapus kematian berarti meruntuhkan struktur temporal yang memungkinkan kita mengambil keputusan bermakna.
Penaklukan Kematian Involunter
Transhumanis menentang Williams dengan menyatakan bahwa potensi eksplorasi ilmiah, seni, dan pengembangan kesadaran di alam semesta bersifat tak terbatas, sehingga keabadian dapat terus diperbarui tanpa rasa jenuh.
Kualitas Hidup di Atas Kuantitas Waktu
Seneca mengingatkan bahwa hidup ini cukup panjang jika digunakan dengan bijaksana. Menginginkan umur tanpa batas adalah keserakahan yang lahir dari ketidakmampuan menikmati saat ini.