Di laboratorium komputasi realitas kuantum Omni-Core, Dr. Irfan mempresentasikan arsitektur kecerdasan sintetis tertinggi yang ia klaim memiliki 'daya cipta tanpa batas'. Sistem tersebut mampu merekayasa gravitasi lokal, mengubah konstanta fisika material, dan menciptakan ruang tiga dimensi dalam sekejap.
Vanya, seorang logikawan muda, mengajukan sebuah perintah sederhana ke dalam terminal masukan: "Omni-Core, ciptakan sebuah bentuk geometri datar yang secara serentak merupakan lingkaran sempurna sekaligus persegi bersudut empat siku-siku dalam ruang euklidian yang sama."
Prosesor kuantum sistem tersebut mendengung keras, suhunya melonjak, dan dalam beberapa detik layar menampilkan galat fatal: INVALID SYNTAX LOOP.
Dialog Vanya dan Dr. Irfan
"Sistem Anda ternyata tidak mahakuasa, Dokter," ujar Vanya tersenyum. "Ia bahkan tidak mampu menciptakan sebuah lingkaran persegi sederhana."
"Bukan demikian, Vanya," jawab Irfan tenang. "Kemahakuasaan berarti kemampuan mewujudkan segala kemungkinan yang dapat dipikirkan (all possible states of affairs). Frasa 'lingkaran persegi' bukanlah sebuah benda atau konsep; itu adalah gabungan kata tanpa makna—suatu kontradiksi logika yang pada hakikatnya adalah ketiadaan (nothing). Kegagalan mewujudkan omong kosong bukanlah bukti kelemahan kuasa."
Sebagaimana yang dirumuskan Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae, hukum logika bukan pembatas eksternal yang membelenggu kuasa penciptaan; hukum logika adalah struktur dasar dari kemungkinan eksistensi itu sendiri.
1. Doktrin Kemahakuasaan Thomas Aquinas
Aquinas menegaskan bahwa segala sesuatu yang mengandung kontradiksi (contradictio in terminis) tidak termasuk dalam lingkup kemahakuasaan ilahi, bukan karena keterbatasan daya kuasa, melainkan karena hal tersebut tidak memiliki substansi kemungkinan untuk mengada.
2. Voluntarisme Radikal René Descartes
Descartes sempat mengajukan pandangan ekstrem bahwa kebenaran matematika dan hukum logika diciptakan secara bebas oleh kehendak mutlak Pencipta, sehingga Pencipta mampu mengubah hukum non-kontradiksi jika dikehendaki.
3. Paradoks Batu Mahaberat (Omnipotence Paradox)
Bisakah entitas mahakuasa menciptakan batu yang begitu berat sehingga ia sendiri tidak mampu mengangkatnya? Jika bisa atau tidak bisa, keduanya tampak membatasi kemahakuasaannya.
4. Logika sebagai Syarat Kebermaknaan Bahasa
Tanpa prinsip non-kontradiksi (A bukan non-A), segala kata dan pernyataan kehilangan maknanya, sehingga pembicaraan tentang 'kuasa' dan 'ciptaan' menjadi runtuh total.
Harmoni Nalar dan Kuasa Mutlak
Aquinas menyatakan bahwa kuasa bertindak sejalan dengan hakikat keberadaan (act follows being). Karena kontradiksi adalah negasi dari eksistensi, menolak kontradiksi adalah wujud kesempurnaan nalar murni.
Aktualisasi Dunia yang Mungkin
Alvin Plantinga menjelaskan bahwa kemahakuasaan adalah kemampuan mengaktualisasikan dunia mana pun yang mungkin secara logis (maximally great power). Dunia yang mengandung kontradiksi bukanlah dunia yang mungkin.
Eliminasi Pernyataan Nir-Makna
Positivis logis memandang bahwa kalimat yang menggabungkan konsep kontradiktif (seperti lingkaran persegi) tidak memiliki muatan kognitif sama sekali, melainkan hanya kebisingan sintaksis tanpa nilai proposisi.