Empat orang insinyur muda—Hendra, Dodi, Luki, dan Santi—berikrar kepada warga desa terpencil di kaki pegunungan bahwa mereka akan memperbaiki turbin pembangkit listrik desa yang padam sebelum musim badai salju tiba.
Hendra merancang modul suku cadang pengganti dengan penuh ketulusan hati, namun ia menyerahkan pengirimannya kepada kurir ekspedisi murahan yang tidak bertanggung jawab, sehingga suku cadang itu hilang di jalan dan warga tetap kedinginan.
Dodi bersemangat menolong, namun ia bekerja ceroboh dan memasang kabel secara terbalik karena terburu-buru ingin segera berlibur, sehingga generator terbakar dan listrik tetap mati.
Luki sama sekali tidak peduli pada nasib warga desa; ia memperbaiki turbin hingga menyala terang semata-mata karena ingin merekam aksinya demi mendapatkan bonus uang tunai dan promosi jabatan dari direksi perusahaannya.
Santi bekerja dengan teliti, disiplin, dan tuntas semata-mata karena ia memegang teguh kewajiban moral profesionalnya bahwa janji kepada warga wajib ditepati demi martabat kemanusiaan mereka. Turbin menyala sempurna.
"Warga desa menikmati terang listrik berkat Luki dan Santi. Namun dari sudut pandang etika murni, apakah Luki yang bertindak demi ketamakan egois memiliki nilai kebajikan moral yang setara dengan Santi yang bertindak murni atas dasar panggilan kewajiban?"
Sebagaimana yang ditegaskan Immanuel Kant dalam Groundwork of the Metaphysics of Morals, satu-satunya hal yang baik tanpa syarat di dunia ini adalah Kehendak Baik (Good Will). Tindakan yang berhasil membawa kebaikan lahiriah tetapi didorong semata oleh pamrih egois mungkin patut dipuji secara hukum dan utilitas, namun tidak memiliki nilai moral intrinsik (moral worth).