Bagas, seorang teknisi laboratorium medis, terbangun di ranjang ruang isolasi rumah sakit dengan selang vaskular ganda tertanam di arteri lengannya. Selang tersebut menghubungkan sistem sirkulasi darah dan organ ginjalnya ke tubuh seorang pasien di ranjang sebelah yang sedang koma.
Pasien tersebut adalah Profesor Hendro, seorang ilmuwan penemu vaksin global peraih Nobel yang menderita gagal ginjal akut akibat infeksi virus langka. Karena kekeliruan administrasi gawat darurat malam sebelumnya, Bagas disangka sebagai relawan terdaftar dengan kecocokan antigen langka.
Direktur rumah sakit menjelaskan situasinya dengan wajah penuh permohonan: "Bagas, jika kami mencabut selang ini sekarang, Profesor Hendro akan meninggal dalam lima menit. Namun jika Anda bersedia berbaring terhubung selama sembilan bulan, organ kloningannya akan matang sempurna, dan beliau akan pulih total untuk menyelamatkan jutaan nyawa di dunia."
"Aku mengakui bahwa Profesor Hendro memiliki hak untuk hidup (right to life). Namun apakah hak untuk hidup seorang manusia otomatis memberinya hak moral untuk menggunakan organ tubuhku tanpa persetujuanku selama sembilan bulan?"
Sebagaimana analogi musisi biola klasik yang dirumuskan filsuf Judith Jarvis Thomson dalam A Defense of Abortion, hak untuk hidup bukanlah hak untuk diberikan segala sarana biologis yang dibutuhkan agar tetap hidup—termasuk meminjam paksa tubuh orang lain.
Memutuskan hubungan selang vaskular memang mengakibatkan kematian sang profesor, namun tindakan tersebut bukanlah 'pembunuhan yang melanggar hak', melainkan penarikan kembali penggunaan tubuh yang menjadi hak otonom Bagas sejak awal.