Di panggung seminar sains populer ibukota, Dr. Panji membawakan kuliah umum berjudul 'Asal Usul Evolusioner Segala Tindakan Manusia'. Baginya, tidak ada satu pun kebiasaan modern yang tidak dapat dijelaskan sebagai adaptasi genetik bertahan hidup di padang sabana Pleistosen dua juta tahun lalu.
Lestari, seorang peneliti antropologi budaya, mengangkat tangan dan bertanya: "Dokter Panji, mengapa remaja masa kini gemar mengenakan topi bisbol dengan lidah menghadap ke belakang?"
Tanpa jeda sedetik pun, Panji tersenyum percaya diri: "Sederhana! Di padang rumput purba, pejantan dominan harus melindungi tengkuknya dari sengatan matahari saat berburu mamut, sekaligus memamerkan dahinya agar tampak lebih agresif di hadapan betina. Topi terbalik adalah sinyal adaptif kejantanan genetik purba!"
Tantangan Kritis Lestari
"Namun Dokter, seandainya remaja memakai topi dengan lidah menghadap ke depan, Anda pasti akan mengatakan itu adaptasi melindungi mata dari silau mangsa! Teori Anda bisa mencocok-cocokkan cerita apa pun setelah fakta terjadi (post-hoc rationalization), namun tidak bisa diuji atau difalsifikasi!"
Sebagaimana kritik Stephen Jay Gould terhadap Just-So Stories (Dongeng Begitulah Adanya ala Rudyard Kipling), banyak penjelasan psikologi evolusi populer yang terjebak dalam adaptasionisme dogmatis: mengarang narasi fiksi masa purba yang terdengar masuk akal untuk menjustifikasi setiap perilaku budaya kontemporer.
Lebih berbahaya lagi, upaya menurunkan nilai moral dari 'kodrat evolusi masa lalu' kerap menjerumuskan pemikiran ke dalam Kesesatan Naturalistik (Naturalistic Fallacy): menganggap bahwa apa yang alamiah otomatis merupakan hal yang benar secara etis.
1. Kritik 'Just-So Stories' Stephen Jay Gould & Richard Lewontin
Makalah klasik 'The Spandrels of San Marco' (1979) yang mengkritik para biolog yang menganggap setiap fitur organisme pasti merupakan adaptasi seleksi alam, padahal banyak yang hanyalah produk sampingan arsitektural (spandrels) atau konvensi acak.
2. Kesesatan Naturalistik G.E. Moore (Naturalistic Fallacy)
Kesalahan logika yang menyamakan 'kebaikan moral' dengan sifat alamiah fisik (seperti 'yang menyenangkan', 'yang berevolusi', atau 'yang bertahan hidup').
3. Jurang Fakta dan Nilai (The Is-Ought Gap David Hume)
Kita tidak dapat menarik kesimpulan normatif (apa yang seharusnya dilakukan) semata-mata dari premis deskriptif (bagaimana hal tersebut terjadi di alam).
4. Kekuatan Otonomi Budaya Manusia
Meskipun manusia memiliki fondasi biologis, kapasitas simbolik bahasa dan refleksi etis memungkinkan kita melawan dorongan genetik demi keadilan dan kesetaraan.
Otonomi Nilai Moral
G.E. Moore dalam Principia Ethica menegaskan bahwa 'Kebaikan' adalah konsep sederhana yang tidak dapat didefinisikan melalui istilah-istilah biologis. Menjustifikasi agresi atau hierarki semata karena 'itu alamiah' adalah kekeliruan bernalar.
Gen Egois dan Basis Perilaku
Sosiobiolog berpendapat bahwa kecenderungan perilaku sosial memiliki akar evolusioner yang kuat (extended phenotype), dan memahami biologi perilaku sangat penting untuk merancang kebijakan sosial yang realistis.
Ko-Evolusi Gen dan Budaya
Budaya bukan sekadar pelayan gen, melainkan sistem pewarisan informasi mandiri yang mampu mengubah tekanan seleksi biologis manusia (seperti penemuan memasak dan pertanian).