Danar adalah komandan laskar perlawanan rakyat di lembah perbatasan yang telah sepuluh tahun diduduki secara brutal oleh tentara korporasi kolonial Titan-Group. Seluruh hak tanah dirampas, para tetua adat dipenjara, dan budaya lokal diberangus.
Semua jalur diplomasi damai, petisi internasional, dan perlawanan gerilya konvensional telah dicoba dan hancur lebur. Kini, sisa laskar Danar terkepung di hutan lereng gunung, menghadapi pemusnahan total dalam hitungan hari.
Seorang perwira mudanya membawa sebuah bom kimia beracun yang dapat diledakkan di pusat stasiun kereta cepat distrik pemukiman sipil kolonial. Perwira itu meyakinkan Danar: "Komandan, ini adalah jalan terakhir (last resort) mutlak kita! Jika kita membunuh ribuan keluarga dan anak-anak sipil kolonial di stasiun itu, pemerintah mereka akan panik dan terpaksa menarik pasukannya keluar dari tanah air kita!"
"Teori perang yang adil menyatakan bahwa kekerasan hanya boleh digunakan sebagai 'jalan terakhir'. Namun apakah kondisi jalan terakhir memberi kita hak moral untuk membantai warga sipil yang tidak memegang senjata? Jika demi membebaskan tanah air kita harus berubah menjadi monster yang membantai anak-anak tak berdosa, apa lagi yang tersisa dari kemuliaan perjuangan kita?"
Sebagaimana prinsip Jus in Bello dalam teori perang yang adil (Just War Theory), syarat 'Jalan Terakhir' (Last Resort) tidak pernah berdiri sendiri tanpa batasan. Prinsip Kekebalan Non-Kombatan (Non-Combatant Immunity) dan Diskriminasi Moral adalah batas mutlak yang tidak boleh dilanggar.
Ketika sebuah bangsa dihadapkan pada kekalahan yang tak terelakkan, menerima kekalahan dengan martabat moral yang utuh jauh lebih mulia daripada memperpanjang napas perlawanan melalui kejahatan terorisme massal.