Komisaris Ratna berdiri di hadapan parlemen untuk membela program revolusioner yang ia pimpin: Biro Keadilan Preventif. Menggunakan analitik perilaku saraf kuantum berbasis kecerdasan buatan, tingkat pembunuhan di kota turun sembilan puluh persen dan kejahatan jalanan lenyap hampir seluruhnya.
Namun kini Ratna duduk di kursi terdakwa mahkamah konstitusi atas gugatan penahanan sewenang-wenang terhadap Aldi, seorang pemuda montir bengkel berusia sembilan belas tahun.
Kemarin malam, sistem analitik membunyikan alarm merah darurat: pola saraf, riwayat percakapan, pembelian zat kimia, dan gejolak emosi Aldi menunjukkan probabilitas 99,8% bahwa ia akan membakar gudang pabrik majikannya dalam kurun dua belas jam ke depan sebagai aksi balas dendam atas pemecatan sepihak. Petugas menyergap dan menahan Aldi saat ia sedang tidur lelap di kamarnya.
"Yang Mulia, Aldi belum menyentuh korek api, belum melangkah ke gerbang pabrik, dan belum merugikan siapa pun! Manusia memiliki kehendak bebas hingga detik terakhir untuk mengurungkan niat buruknya. Menghukum seseorang atas kejahatan yang belum terjadi adalah penghancuran asas praduga tak bersalah dan perendahan manusia menjadi mesin otomaton!"
Ratna membalas dingin: "Jika kita menunggu hingga korek api disulut, tiga puluh buruh malam di pabrik itu akan terbakar hidup-hidup! Tugas negara adalah melindungi nyawa warga tak bersalah dari ancaman yang telah pasti secara matematis!"
Pertarungan di mahkamah menyingkap jurang pemisah antara Keadilan Retributif (yang hanya menghukum kesalahan nyata di masa lalu) dan Keadilan Konsekuensialis Preventif (yang mengorbankan hak individu demi keamanan agregat masyarakat di masa depan).