Hendra selalu membanggakan diri sebagai seorang intelektual murni. Baginya, tubuh fisik hanyalah wadah daging yang ringkih, merepotkan, dan menjadi sumber segala penyakit penuaan. Ia selalu percaya pada diktum fisikalisme reduktif: 'Aku pada hakikatnya adalah otakku; pikiran dan jiwaku adalah sirkuit sarafku.'
Ketika tubuhnya divonis gagal organ stadium akhir, Hendra menandatangani protokol keabadian radikal: otaknya diangkat secara utuh, diawetkan di dalam bejana cairan nutrisi biokimia steril, dan dihubungkan ke dunia luar murni melalui kamera optik, mikrofon audio, dan modulator suara digital.
Awalnya, Hendra merasa menang: ia bebas dari rasa lelah, bebas dari rasa lapar, dan dapat membaca ribuan buku digital dalam hitungan jam.
"Namun ada sesuatu yang mati perlahan di dalam diriku. Tanpa aliran hormon adrenalin, aku tak lagi merasakan getar gairah keberanian. Tanpa sensasi tarikan napas di dada dan detak jantung yang berdegup kencang, musik klasik yang kudengar hanyalah grafik frekuensi matematis yang dingin. Tanpa kulit yang bisa disentuh, rasa cinta kepada anak-istriku tereduksi menjadi sekadar kalkulasi kewajiban logika yang hampa."
Sebagaimana kritik teori Kognisi Berwujud (Embodied Cognition) karya Maurice Merleau-Ponty dan Antonio Damasio dalam Descartes' Error, manusia bukanlah otak komputasi yang terisolasi di dalam wadah.
Kesadaran, emosi, empati, dan makna eksistensial kita berakar secara tak terpisahkan pada interaksi dinamis antara otak, organ-organ visceral tubuh, hormon biologis, dan kebertubuhan kita di dunia nyata.