Farhan adalah seorang pemuda sederhana tanpa latar belakang pendidikan ekonomi atau analisis keuangan. Namun di pasar bursa komoditas berjangka, ia dijuluki 'Sang Peramal Mustahil'.
Setiap kali hendak berinvestasi, Farhan melakukan ritual aneh: ia duduk di kamar lotengnya sambil mendengarkan dengung desis radio tabung tua peninggalan kakeknya. Ketika gelombang tertentu berbunyi, sebuah keyakinan mutlak (gut feeling) seketika menyergap dadanya tentang saham tambang mineral mana yang akan melonjak tiga ratus persen.
Selama dua puluh kali transaksi berturut-turut dalam kurun waktu tiga tahun, firasat Farhan tidak pernah meleset sekalipun. Ia meraup kekayaan puluhan miliar rupiah.
Uji Epistemologi di Universitas
Para profesor ekonomi menguji Farhan: "Apakah Anda mengetahui laporan neraca keuangan perusahaan itu? Apakah Anda memahami tren geopolitiknya?" Farhan menggeleng jujur: "Tidak sama sekali. Saya hanya sangat yakin saat radio itu berdesis, dan keyakinan saya selalu benar."
Para epistemolog terbelah dalam perdebatan klasik: Menurut definisi tradisional Justified True Belief (JTB), Farhan tidak memiliki pengetahuan, karena keyakinan benarnya tidak didukung oleh justifikasi rasional atau bukti empiris yang sahβia hanya mengalami rentetan keberuntungan epistemik (epistemic luck) yang luar biasa.
Namun penganut Reliabilisme berargumen sebaliknya: jika ada mekanisme kognitif atau proses yang terbukti andal (reliable) menghasilkan kebenaran seratus persen tanpa gagal, mengapa ketiadaan penjelasan ilmiah sadar harus membatalkan status pengetahuan tersebut?
1. Definisi Tripartit Pengetahuan (Justified True Belief - JTB)
Sejak era Plato (dialog Theaetetus), pengetahuan didefinisikan sebagai keyakinan yang benar dan memiliki dasar justifikasi (justification). Tanpa justifikasi, keyakinan benar hanyalah opini kebetulan.
2. Problem Keberuntungan Epistemik (Epistemic Luck)
Jika seseorang meyakini sesuatu semata karena firasat liar atau lemparan koin, lalu kebetulan tebakannya benar, kita enggan menyebut orang itu 'mengetahui' karena kebenaran itu diraih secara aksidental.
3. Reliabilisme Alvin Goldman
Teori eksternalis yang menyatakan bahwa keyakinan bernilai pengetahuan jika ia dihasilkan oleh proses kognitif yang andal (truth-conducive process), meskipun agen tidak sadar bagaimana proses itu bekerja.
4. Inspirasi Cerpen D.H. Lawrence
Diilhami dari kisah The Rocking-Horse Winner (1926) karya D.H. Lawrence tentang seorang anak yang menebak pemenang pacuan kuda dengan menunggangi kuda-kudaan kayu mainannya hingga kelelahan batin.
Aksesibilitas Alasan Rasional
Internalis menuntut bahwa sang agen harus memiliki akses sadar pada alasan pembenarannya. Mengetahui menuntut kemampuan memberi pertanggungjawaban nalar (giving reasons).
Keandalan Proses Pembentukan Keyakinan
Goldman memandang bahwa termometer yang akurat tidak perlu 'memahami' termodinamika untuk menunjukkan suhu yang benar. Jika intuisi Farhan terhubung secara kausal dengan kebenaran, ia memiliki pengetahuan.
Kompetensi Agen yang Layak Dipuji
Ernest Sosa menyatakan pengetahuan adalah keyakinan yang berhasil berkat kompetensi kognitif agen (apt belief), bukan hasil keberuntungan murni.