Maya tumbuh besar di dalam stasiun biosfer tertutup Kubah Lazuardi. Sebagai bagian dari studi sains persepsi visual generasi, sistem pencahayaan spektrum di kubah tersebut sengaja menyaring habis satu frekuensi warna spesifik: nuansa warna Zamrud-47, sebuah gradasi hijau kebiruan yang berada persis di antara hijau toska tua dan hijau giok cerah.
Sepanjang hidupnya, Maya telah melihat ribuan gradasi warna hijau dan biru lainnya: dari daun lumut gelap, zamrud pekat, hingga biru laut dan pirus terang. Satu-satunya warna yang belum pernah memantul ke retinanya adalah Zamrud-47.
Pada usia tiga puluh tahun, dewan peneliti meletakkan sebuah strip gradasi spektrum warna di hadapan Maya. Strip itu memuat urutan tiga puluh petak warna hijau-biru yang bergeser secara halus dan kontinu dari gelap ke terang—namun petak nomor empat belas dibiarkan kosong berwarna putih.
Para ilmuwan bertanya: "Maya, dapatkah Anda membayangkan di dalam pikiran Anda warna apakah yang seharusnya mengisi petak kosong nomor empat belas tersebut?"
Maya memejamkan matanya, menginterpolasi jembatan gradasi di antara petak ke-13 dan ke-15, dan tersenyum: "Bisa! Aku melihatnya dengan sangat jelas di dalam benakku, sebuah warna zamrud berkilau yang belum pernah kulihat di kubah ini!"
Sebagaimana paradoks legendaris The Missing Shade of Blue yang diajukan filsuf empiris David Hume dalam An Enquiry Concerning Human Understanding, peristiwa ini menjadi anomali luar biasa bagi empirisme murni.
Jika seluruh ide dan konsep pikiran kita wajib diturunkan dari kesan indrawi (impressions), bagaimana akal budi mampu melahirkan ide sederhana baru murni melalui ekstrapolasi relasional imajinasi tanpa pernah mencicipi pengalaman fisiknya?