Dua puluh lima tahun lalu, saat masih menjadi mahasiswa aktivis garis keras di kampus, Reza dan Dimas mengikrarkan sumpah persaudaraan moral yang khidmat di bawah pohon beringin kampus.
Keduanya bersumpah: "Jika suatu hari nanti salah satu dari kita mengkhianati idealisme rakyat, menjadi pejabat birokrasi kompromis, dan membela konglomerasi korporasi, maka pihak yang lain memiliki kewajiban suci untuk membongkar, menghancurkan, dan mematikan karier politik sang pengkhianat tanpa belas kasihan!"
Kini, di usia lima puluh tahun, Reza telah menjadi Menteri Koordinator Perekonomian yang matang dan dihormati. Melalui kompromi politik dan kerja sama dengan korporasi besar, Reza berhasil mengentaskan jutaan warga dari kemiskinan dan menjaga stabilitas pangan nasional.
Malam ini, Dimas mendatangi ruang kerja Reza dengan membawa berkas dokumen rahasia yang dapat menghancurkan karier dan reputasi Reza dalam semalam. Dimas menatap tajam: "Reza, aku datang untuk melaksanakan sumpah suci kita dua puluh lima tahun lalu. Kamu telah menjadi pembela konglomerasi; demi janjimu sendiri, kamu harus hancur malam ini!"
"Dimas, pemuda dua puluh tahun yang bersumpah dulu adalah anak kemarin sore yang naif dan belum mengerti kompleksitas mengurus ratusan juta perut rakyat! Nilai-nilaiku telah berevolusi, kebijaksanaanku telah bertransformasi. Bagaimana mungkin kamu menuntut nyawa dan karya seorang pria berumur lima puluh tahun demi memuaskan sumpah seorang bocah ingusan yang telah mati di masa lalu?"
Sebagaimana persoalan pergeseran identitas personal (Value Drift & Personal Identity) karya Derek Parfit, apakah diri kita di masa lalu memiliki otoritas moral mutlak untuk mendikte, memenjarakan, atau menghukum diri kita di masa depan yang telah mengalami diskontinuitas psikologis mendalam?