Danu adalah seorang ahli bedah saraf terkemuka yang mengalami kecelakaan fatal yang melumpuhkan batang otaknya. Untuk menyelamatkan nyawanya, sebuah teknologi kloning regeneratif mutakhir mengeksekusi prosedur pembelahan hemisfer saraf (cerebral fission).
Karena kedua belahan otak Danu telah menjalani enkripsi data memori penuh yang saling menduplikasi, belahan otak kiri dicangkokkan ke dalam raga kloning biologis pertama (Danu-1), dan belahan otak kanan dicangkokkan ke raga kloning kedua (Danu-2).
Kedua raga terbangun di ruangan terpisah. Keduanya membuka mata dengan kepribadian Danu yang utuh: keduanya mengenali wajah istri dan anak-anaknya, mengingat detail janji masa muda, memainkan biola dengan kemahiran yang sama, dan keduanya menyatakan dengan tulus: "Aku adalah Danu yang selamat dari maut!"
Secara hukum logika identitas (A = B dan A = C, maka B = C), Danu-1 dan Danu-2 tidak mungkin merupakan orang yang sama secara numerik karena kini mereka berdiri di dua tempat berbeda dan dapat mengambil keputusan yang saling bertentangan.
Apakah Danu adalah Danu-1? Bukan, karena tidak ada alasan mengapa otak kiri lebih berhak dari otak kanan.
Apakah Danu telah mati? Sulit dikatakan mati, ketika ada dua manusia hidup yang mewarisi kesadaran dan ingatannya secara utuh!
Sebagaimana Paradoks Pembelahan Diri (The Fission Problem) karya Derek Parfit, eksperimen ini membuktikan bahwa konsep tradisional tentang 'Identitas Personal' yang kaku dan tunggal bukanlah hal yang sesungguhnya bernilai dalam kelangsungan hidup (Identity is not what matters in survival).
Yang sungguh-sungguh berharga bagi manusia adalah keberlanjutan jalinan psikologis (Relasi-R), yang dapat bercabang sebagaimana pembelahan sel amuba tanpa harus terjebak dalam pertanyaan matematis tentang kepemilikan tunggal ego.