Dr. Satria dan asistennya, Rian, melakukan ekspedisi antropologi linguistik radikal ke pedalaman hutan rimba Kalimantan untuk mendokumentasikan bahasa suku Punan Hulu yang belum pernah terjamah dunia luar.
Saat mereka sedang duduk bersama tetua adat di tepi sungai, seekor burung rangkong badak berbulu hitam dengan paruh tanduk merah yang megah tiba-tiba terbang melintasi kanopi hutan. Sang tetua adat seketika menunjuk ke arah burung itu dan berseru lantang: "Kalawit!"
Satria segera membuka buku catatannya dan menulis: 'Kalawit = Burung Rangkong'.
Namun Rian menahan tangan Satria dan mengajukan keberatan epistemik: "Dokter Satria, bagaimana Anda yakin bahwa 'Kalawit' berarti objek utuh 'burung rangkong'? Bisa jadi kata itu berarti 'bagian-bagian burung yang bersatu', atau 'peristiwa kilatan warna merah di langit', atau 'fase temporal perburuan', atau 'roh penjaga hutan yang sedang bergerak'?"
Satria menguji: setiap kali ada burung rangkong melintas, tetua adat selalu mengangguk saat Satria mengucapkan "Kalawit?". Namun respon perilaku mengangguk tersebut cocok seratus persen dengan semua hipotesis terjemahan alternatif! Tidak ada bukti perilaku fisik yang mampu memastikan rujukan ontologis kata tersebut secara mutlak.
Sebagaimana Paradoks Gavagai yang dirumuskan W.V.O. Quine dalam Word and Object, inilah problem Ketertaksaan Rujukan (Inscrutability of Reference) dan Ketaktertentuan Penerjemahan Radikal (Indeterminacy of Radical Translation).
Bahasa kita tidak pernah memetakan benda-benda dunia secara langsung dan murni; setiap terjemahan selalu memproyeksikan kerangka konseptual budaya kita sendiri ke dalam realitas orang lain.