Retno adalah seorang pegiat gaya hidup bebas-sampah (zero-waste) yang hidup hemat dan menghormati kelestarian alam. Ia memegang prinsip keras menentang pemborosan sumber daya biologis.
Suatu pagi, kelinci peliharaan kesayangannya yang bernama Si Manis mati karena usia tua di kandang taman belakang rumahnya. Retno sangat menyayangi Si Manis dan bersedih atas kematiannya.
Namun alih-alih mengubur bangkai kelinci itu di tanah untuk membusuk sia-sia, Retno membersihkannya secara higienis, membumbuinya dengan rempah dapur, dan memasaknya sebagai hidangan santap malam privat bersama keluarganya. Tidak ada hewan yang dibunuh secara kejam, tidak ada penyakit yang disebarkan, dan tidak ada orang lain yang dirugikan secara fisik.
Ketika tetangga sebelah rumah mengetahui hal tersebut, gelombang kemarahan dan rasa jijik meledak di lingkungan mereka: "Retno, kamu monster yang menjijikkan dan tidak bermoral! Bagaimana mungkin kamu memakan hewan peliharaanmu sendiri?!"
Retno membela diri tenang: "Si Manis mati secara alami karena usia tua. Mengapa memakan daging sapi yang disembelih secara massal di rumah jagal dianggap bermoral, sementara memanfaatkan daging hewan yang mati alami dianggap kejahatan keji?"
Sebagaimana penelitian psikologi moral Jonathan Haidt tentang Moral Dumbfounding (Kebisuan Moral), skenario ini membongkar jurang pemisah antara Prinsip Kerusakan (Harm Principle) dan Fondasi Kemurnian/Kesucian (Purity/Sanctity Taboo).
Masyarakat sering kali mengutuk keras suatu perbuatan sebagai 'kejahatan moral' semata-mata karena dorongan rasa jijik emosional dan pelanggaran tabu kultural, meskipun perbuatan tersebut terbukti tidak merugikan satu jiwa pun di dunia nyata.