Ustadz Mansur adalah seorang tokoh spiritual panutan di sebuah komunitas pedesaan yang damai. Dikenal atas kelembutan hati dan kebijaksanaannya, ia mengasuh sebuah panti asuhan kecil yang menjadi tempat bernaung tiga puluh anak yatim piatu.
Suatu malam, dalam khalwat tahajud yang sunyi, Mansur mengalami sebuah pengalaman spiritual yang sangat dahsyat: sebuah cahaya agung dan suara wibawa transenden bergema di relung jiwanya, memerintahkannya untuk membakar habis gedung asrama panti asuhan tersebut bersama seluruh anak-anak di dalamnya pada tengah malam esok sebagai 'Ujian Ketaatan Mutlak' atas imannya.
Mansur tersungkur gemetar dalam ratapan air mata dan teror eksistensial. Ia teringat kisah Pengorbanan Ibrahim/Abraham dalam kitab suci. Namun sebuah jeritan nalar menyergap benaknya:
"Hukum Tuhan yang kuajarkan seumur hidup melarang keras pembunuhan dan kezaliman terhadap anak yatim! Bagaimana mungkin Tuhan Yang Maha Pengasih memerintahkan kebiadaban yang sekeji ini?
Dan yang paling mengerikan: bagaimana aku tahu secara pasti bahwa bisikan di kepalaku ini benar-benar Suara Tuhan, dan bukan bisikan iblis yang lihai atau delusi skizofrenia dari otakku yang sedang sakit?"
Sebagaimana kritik tajam Immanuel Kant dalam Religion within the Boundaries of Mere Reason: jika sebuah suara transenden memerintahkan pembunuhan atas orang tak bersalah, manusia dapat yakin seratus persen bahwa suara tersebut bukan berasal dari Tuhan, karena Tuhan yang sejati tidak pernah memerintahkan tindakan yang secara inheren menghancurkan hukum moral nalar.
Namun sebagaimana tafsir Søren Kierkegaard dalam Fear and Trembling, inilah 'Kengerian Iman' (Kierkegaard's Teleological Suspension of the Ethical): melompat ke dalam kegelapan mutlak di mana keyakinan religius menuntut penangguhan seluruh tatanan etika akal budi manusia.