Sesilia adalah seorang insinyur neuro-optik yang menguji perangkat transmisi visual saraf langsung bernama Synapse-View. Perangkat tersebut memungkinkan korteks penglihatan satu orang dihubungkan secara nirkabel ke mata orang lain, sehingga pengamat dapat merasakan persis bagaimana rekannya memandang dunia.
Sesilia menghubungkan perangkatnya ke mata rekan penelitinya, Galang. Keduanya berdiri berdampingan di taman laboratorium, menatap sekuntum bunga flamboyan yang sedang mekar merah membara di dahan pohon.
Ketika Sesilia beralih ke saluran visual Galang, sebuah keterkejutan yang mengguncang benaknya terjadi: melalui mata Galang, bunga flamboyan tersebut memancarkan sensasi warna yang selama ini dalam benak Sesilia disebut sebagai biru kobalt pekat! Namun ketika Galang berbicara, ia menunjuk bunga itu dan berkata: "Lihat Sesilia, betapa indahnya warna merah menyala pada bunga ini!"
Penemuan Spektrum Terbalik
Galang diajari sejak kecil untuk menyebut sensasi warna 'kobalt' tersebut dengan kata 'merah', sebagaimana Sesilia diajari menyebut sensasi warna 'merah' dengan kata 'merah'. Dalam interaksi sosial sehari-hari, keduanya tidak pernah berselisih: mereka sama-sama berhenti di lampu merah dan mengagumi mawar merah, meskipun kualia batin mereka berkebalikan total!
Sebagaimana paradoks Inverted Spectrum (Spektrum Terbalik) yang dirumuskan John Locke dan dieksplorasi Thomas Nagel, bahasa publik kita dapat berfungsi secara sempurna dan harmonis, sementara dunia rasa kualitatif orang pertama di dalam batin masing-masing manusia tetap menjadi misteri yang terisolasi selamanya.
1. Paradoks Spektrum Terbalik John Locke (1689)
Locke dalam An Essay Concerning Human Understanding membayangkan seseorang yang matanya melihat warna secara terbalik tanpa pernah diketahui orang lain karena konvensi bahasa yang ia gunakan tetap sama.
2. Subjektivitas Pengalaman Thomas Nagel
Dalam esai terkenalnya What Is It Like to Be a Bat? (1974), Nagel menegaskan bahwa setiap makhluk memiliki fakta subjektif orang pertama (subjective character of experience) yang tidak terjangkau oleh deskripsi fisik objektif dari luar.
3. Kerapuhan Uji Perilaku Bahasa
Kesepakatan kata dan perilaku sosial tidak menjamin kesamaan rasa kualia di dalam kesadaran masing-masing individu.
4. Tantangan bagi Fisikalisme Pikiran
Jika struktur fungsional dan fisik otak dua orang sama namun pengalaman kualianya terbalik, maka kualia tidak dapat dijelaskan secara tuntas murni melalui fungsi fisika materiil.
Kesenjangan Fakta Subjektif dan Objektif
Nagel berpendapat bahwa sains objektif dapat mereduksi materi menjadi gelombang cahaya, namun sains tidak bisa menjawab 'bagaimana rasanya' (what it is like) melihat merah dari dalam kesadaran Galang.
Penolakan Kualia sebagai 'Quining Qualia'
Dennett membantah paradoks spektrum terbalik. Jika tidak ada perbedaan fisiologis atau perilaku fungsional yang dapat dideteksi, maka mengklaim adanya 'perbedaan rasa batin' adalah konsep kosong tanpa makna ilmiah.
Warna sebagai Properti Permukaan Objek
Dretske menyatakan bahwa isi persepsi adalah representasi dari properti reflektansi spektral objek di dunia luar (surface reflectance), bukan film misterius di dalam batok kepala.