Di laboratorium neurofisiologi komparatif, Dr. Adrian meneliti dua subjek eksperimen yang membongkar seluruh teori filsafat tentang hakikat rasa sakit (The Problem of Pain).
Subjek Pertama: David (Mad Pain). Akibat anomali saraf langka pasca-trauma, ketika tubuhnya tertusuk paku, ia tidak merasa sakit. Namun ketika ia mencium aroma kayu manis atau mendengar nada biola tinggi, serabut saraf nyeri (C-fibers) di otaknya meletup hebat. Yang aneh: letupan saraf sakit ini tidak membuatnya merintih atau menghindar; David justru merasa tenang, tidak terganggu sedikit pun, dan mulai asyik menghitung rumus aljabar di papan tulis!
Subjek Kedua: Kael (Martian/Android Pain). Kael adalah entitas sintetis bio-hidrolik tanpa saraf biologis atau neuron otak sedikit pun. Ketika lambung luarnya tersengat panas api, sistem hidrolik mikronya mendeteksi ancaman kerusakan: Kael seketika berteriak kesakitan, menangis histeris, bergulingan di lantai menjauhi api, dan memohon pertolongan dengan ekspresi penderitaan yang sangat nyata.
"Siapakah di antara keduanya yang sesungguhnya 'merasakan sakit'?
David memiliki keadaan fisik saraf nyeri murni tetapi tanpa fungsi penderitaan dan penghindaran!
Kael memiliki seluruh fungsi perilaku penderitaan dan tangisan tetapi tanpa bahan baku serabut saraf biologis!"
Sebagaimana analisis filsuf David Lewis dalam Mad Pain and Martian Pain, paradoks ini mendamaikan benturan antara Teori Identitas Tipe (Fisikalisme Otak) dan Fungsionalisme Pikiran.
Rasa sakit pada hakikatnya didefinisikan secara fungsional (sebagai keadaan yang memicu penderitaan dan respon perlindungan diri), namun terwujud (realized) melalui struktur fisik yang berbeda-beda tergantung pada spesies dan populasi sistemnya.