Komisaris Polisi Marsha berdiri di depan jendela markas komandonya, menatap asap kobaran api yang membubung di berbagai penjuru kota. Pembunuhan berdarah terhadap seorang tokoh masyarakat terhormat telah menyulut kerusuhan sektarian massal antaretnis yang sangat biadab.
Laporan intelijen memastikan: jika pembunuh aslinya tidak ditangkap dan dipertontonkan ke publik sebelum fajar besok, massa yang mengamuk akan membakar seluruh distrik permukiman minoritas dan membantai lebih dari lima ratus keluarga tak berdosa.
Di ruang interogasi, Marsha menahan seorang gelandangan tanpa keluarga bernama Basri yang menderita penyakit paru-paru stadium akhir dengan sisa usia beberapa pekan. Secara kebetulan yang sempurna, Basri memiliki ciri fisik yang persis sama dengan sosok buronan pembunuh dan tidak memiliki alibi.
Marsha dapat merekayasa bukti forensik kecil untuk menuduh Basri sebagai pelaku, mengumumkan penangkapannya di televisi nasional, dan seketika memadamkan kerusuhan berdarah tersebut sehingga ratusan nyawa anak dan wanita tak bersalah terselamatkan dari pembantaian.
"Jika aku berpegang pada aturan kesucian keadilan formal dan membiarkan Basri bebas, ratusan warga tak bersalah akan dibantai hidup-hidup malam ini!
Namun jika aku merekayasa fitnah dan menjadikannya kambing hitam, aku mengorbankan satu jiwa tak berdosa demi keselamatan ratusan orang. Apakah keadilan sejati mengizinkan kita merekayasa kebohongan berdarah demi kemaslahatan publik?"
Sebagaimana paradoks klasik The Framing of an Innocent / The Scapegoat (H.J. McCloskey & E.F. Carritt), inilah batu sandungan terbesar bagi Utilitarianisme Tindakan: kalkulasi memaksimalkan kebahagiaan bersih dapat menuntut pengorbanan keji terhadap orang tak bersalah, sebuah kesimpulan yang ditentang mutlak oleh Deontologi Hak Asasi.