Eric adalah pelanggan setia di Kafe Sarang, sebuah kedai kopi dan restoran nyaman di pusat kawasan bisnis ibukota. Yang membuat kafe tersebut sangat dicintai pelanggan adalah harganya yang luar biasa murah: seporsi makanan lezat dan secangkir kopi espreso nikmat dijual hanya sepertiga dari harga kedai lain.
Suatu sore, saat suasana sepi, Eric bertanya kepada pemilik kafe, Ibu Ratna, bagaimana ia mampu menjual makanan begitu murah di tengah melambungnya harga sewa kota.
Ibu Ratna berbisik santai membongkar rahasia dapurnya: "Sederhana saja, Eric. Seluruh koki dan pencuci piring di ruang bawah tanah adalah imigran pengungsi ilegal tanpa dokumen. Mereka tidak punya izin kerja dan akan mati kelaparan di jalanan jika kutolak. Jadi kusediakan tikar kardus di gudang bawah tanah, kuberikan sisa makanan dapur, dan kugaji mereka sepuluh ribu rupiah sehari untuk bekerja empat belas jam, tujuh hari seminggu. Bagi mereka ini penyelamat hidup; bagiku ini efisiensi biaya yang membuatmu bisa minum kopi murah!"
Eric menatap cangkir kopinya yang masih mengepul. Kenikmatan harga murah dan kenyamanan yang ia nikmati setiap pagi ternyata dibayar langsung oleh tetesan keringat perbudakan manusia di ruang bawah tanah yang gelap gulita.
Kafe Sarang bukan sekadar satu kedai makan di sudut jalan; Kafe Sarang adalah metafora telanjang dari seluruh peradaban ekonomi konsumerisme global saat ini!
Ponsel pintar kita murah karena buruh anak menambang kobalt di bawah todongan senjata di Kongo; baju modis kita murah karena penjahit wanita terkurung di pabrik garmen runtuh di Asia Selatan; cokelat lezat kita murah karena perbudakan di perkebunan Afrika.
Kita semua adalah 'Eric' yang duduk tersenyum di kafe mewah, menikmati kenyamanan hidup modern sambil berpura-pura tidak tahu akan jeritan darah di ruang bawah tanah dunia!